Senin, 02 April 2012

Motivation to learn


Motivasi belajar
1.      Pengertian motivasi
John W. Santrock (2010:510) mendefinisikan motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Artinya prilaku yang termotivasi adalah prilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama.
Menurut Mc. Donald (dalam Oemar Hamalik, 2004:158) : motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Di dalam perumusan ini dapat dilihat ada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu :
a.       Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu di dalam sistem neuropisikologis dalam organisme manusia, misalnya karena terjadi perubahan dalam sistem perncernaan maka timbul motif lapar. Tapi ada jjuga perubahan energi yang tidak diketahui.
b.      Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousal. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif. Perubahan ini mungkin bisa dan mungkin jiga tidak, kita hanya dapat melihatnya dalam perbuatan. Seorang terlibat dalam suatu diskusi karena dia merasa tertarik pada masalah yang akan dibicarakan maka suaranya akan timbul dan kata-katanya dengan lancar dan cepat akan keluar.
c.       Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermoticasi mengadakan respon-respon yang tertuju ke arah suatu tujuan. Respon-respon itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya. Setiap respon merupakan suatu langkah ke arah mencapai tujuan, misal si A ingin mendapat hadiah maka ia akan belajar, mengikuti ceramah, bertanya, membaca buku, dan mengikuti tes.

2.      Komponen-komponen motivasi
Menurut Oemar Hamalik (2004:159) ada dua komponen motivasi, yakni komponen dalam (inner component) dan komponen luar (outer component). Komponen dalam ialah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, dan ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah kelakuannya. Jadi, komponen dalam ialah kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yang hendak dicapai.
Menurut John W. Santrock (2010:521) motivasi mangandung komponen sosial.  Dimensi sosial ini terdiri dari :
a.       Motif sosial
Latar belakang sosial anak akan mempengaruhi kehidupan mereka di sekolah. Setiapmurid membangun dan mempertahankan hubungan sosial. Para periset telah menemukan bahwa murid yang menunjukkan prilaku yang kompeten secara sosial lebih mungkin unggul secara akademis ketimbang murid yang tidak kompeten.
Motif sosial adalah kebutuhan dana keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia sosial. Disini mencakup kebutuhan akan afiliasi atau keberuntungan, yakni motif untuk merasa cukup terhubung dengan orang lain. Kebutuhan ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan yang akrab, hangat, dan personal. Kebutuhan sosial murid direfleksikan dalam keinginan mereka untuk populer di mata teman sebaya dan kebutuhan punya satu kawan akrab atau lebih, dan kainginan untuk menarik di mata orang yang mereka sukai.
b.      Hubungan sosial
Hubungan murid dengan orang tua, teman sebaya, kawan, guru dan mentor, dan orang lain dapat mempengaruhi prestasi dan motivasi sosial mereka. Hubungan sosial denga orang tua merupakan hal utama yang mempengaruhi motivasi anak. Ketika waktu dan energi orang tua lbih banyak dihabiskan untuk orang lain atau untuk sesuatu yang lain ketimbang untuk anaknya, motivasi anak akan menurun tajam. Selain itu, pola pengasuhan anak juga ikut mempengaruhi.
Teman sebaya juga dapat mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, belajr bersama, dan pengaruh kelompok sebaya. Serta peran guru di sekolah, guru dapat menjadi mitra orang tua dalam meningkatkan motivasi anak.  
c.       Konteks sosiokultural dari murid
Latar belakang status sosio-ekonomi, etnis, dan gender mempengaruhi motivasi dan prestasi anak. Mengenali diversitas prestasi yang ada di dalam setiap kelompok kultural, juga penting untuk membedakan antara perbedaan dan defisiensi (kekurangan).

3.      Analisis tujuan terhadap motivasi
Antara kebutuhan motivasi perbuatan atau kelakuan, tujuan,  dan kepuasan terdapat hubungan dan kaitan yang kuat. Setiap perbuatan seantiasa berkat adanya dorongan motivasi. Timbulnya motivasi oleh karena seseorang merasakan sesuatu kebutuhan tertentu dan karenanya perbuatan tadi terarah kepada pencapaian tujuan tertentu pula. Kelakuan yang telah memberikan kepuasan terhadap sesuatu kebutuhan akan cendrung untuk diulang kembali, sehingga ia akan menjadi lebih kuat dan lebih mantap.
           
4.      Motivasi dan kebutuhan
Kebutuhan adalah kecendrungan-kecendrungan permanen dalam diri seseorang yang menimbulkan dorongan dan menimbulkan kelakuan untuk mencapai tujuan. Kebutuhan ini timbul karena adanya perubahan (internal change) dalam organisme atau disebabkan oleh perangsang kejadian-kejadin di lingkungan organisme. Begitu terjadi perubahan tadi maka begitu timbul energi yang mendasari kelakuan ke arah tujuan. Jadi, timbulnya kebutuhan inilah yang menimbulkan motivasi pada kelakuan seseorang.

5.      Motivasi dan drive
Drive adalah perubahan dalam struktur neurofisiologis seseorang yang menjadi dasar organis dari perubahan energi, yang disebut motivasi. Jadi timbulnya motivasi dikarenakan terjadinya perubahan-perubahan neurofisiologis. Dikatakan oleh Morgan dan Stellar (dalam Oemar Hamalik, 2004:160) bahwa : a drive is an intuiting neurophysiological condition tahat is a change in the neurophysiological structure of person which is the organic basic for the energy change we call motivation. Jelas sekali bahwa hubungan antara motivasi dan drive  dan kebutuhan ternyara erat sekali.

6.      Motivasi dan tujuan
Tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh suatu perbuatan yang apabila tercapai akan memuaskan individu. Adanya tujuan yang jelas dan disadari akan memperngaruhi kebutuhan dan ini akan mendorong timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan dapat juga membangkitkan timbulnya motivasi dalam diri seseorang. Dikatakan oleh William Burton (dalam Oemar Hamalik, 2004:160) bahwa : individuals are motivated by purposes anf goals which make sense to those individuals motivating then becomes the subtle of seizing upon natural purposes already exsisting, within the on going activities of the learners, or setting the stage, manipulating the environment so that purposes meaningful to the learner are brought to light.

7.      Motivasi dan incentive
Incentive ialalh hal-hal yang disediakan oleh lingkungan (guru) dengan maksud merangsang murid lebih giat dan lebih baik, misalnya kenaikan kelas, hadiah, dan lain-lain. Incentive dapat untuk memuaskan atau tidak memuaskan kebutuhan individu. Incentive dapat menjadi tujuan atau identik dengan tujuan.jadi, terdapat hubungan yang erat antara motivasi dan incentive.
Guru-guru sering kali menggunakan incentive untuk memberikan motivasi kepada siswa didik untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Incentive ini akan bermanfaat apabila mengandung tujuan yang akan memberikan kepuasan kepada kebutuhan psikologis siswa. Karena itu, guru harus kreatif dan imajinatif menyediakan incentive tersebut.

8.      Perspektif tentang motivasi
Perspektif tentang motivasi yang diungkapkan oleh John W. Santrock (2010:511) ada empat yaitu :
a.       Perspektif behavioral
Perspektif behavioral menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebgai kunci dalam menentukan motivasi murid. Salah satu bentuk kongkritnya adalah pemberian insentif. Insentif merupakan peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi prilaku murid. Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, yang emberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid dan tanda bintang atau pujian mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Insentif lainnya atara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid, misalnya memerlukan karya mereka, memberi sertifikat prestasi, memberi kehormatan, atau mengumumkan prestasi meraka.
b.      Perspektif humanistis
Perspektif humanitif menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Heararki kebutuhan menurut Maslow terdiri dari : (1) Fisiologis (seperti lapar, haus, tidur); (2) Keamanan (seperti bertahan hidup); (3) Cinta dan rasa memiliki (seperti kasih sayang, perhatian); (4) Harga diri (menghargai diri sendiri); (5) Aktualisasi diri (realisasi potensi diri).
c.       Perspektif kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memadu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi perspektif kognitif. Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, terutama persepsi bahawa usaha adalah faktor penting  dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif kognitif menekankan agar murid diberi lebih banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.
d.      Perspektif sosial
Kebutuhan afiliasi atau keuntungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaanm dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan  positif dengan guru.

9.      Fungsi motivasi
Dari uraian di atas jelaslah bahwa motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Menurut Oemar Hamalik (2004:161) fungsi motivasi itu meliputi berikut ini :
a.       Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
b.      Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan.
c.       Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu perkerjaan.

10.  Nilai motivasi dalam pengajaran
Menurut Oemar Hamalik (2004:161) nilai motivasi dalam pengajaran adalah tanggung jawab guru agar pengajaran diberikannya berhasil dengan baik. Keberhasilan ini banyak bergantung pada usaha guru membengkitkan motivasi belajar murid. Secara garis besar motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut :
a.       Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sulit untuk berhasil.
b.      Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada murid. Pengajran demikian sesuai dengan tuntutan demikrasi dalam pendidikan.
c.       Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinasi guru untuk berusaha sungguh-sungguh mencari cara-cra yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. Guru senantiasa berusahan agar murid-murid akhirnya memiliki self motivation yang baik.
d.      Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan motivasi dalam pengajaran erat pertaliannya dangan pengaturan disiplin kelas. Kegagalan dalam hal ini mengakibatkan timbulnya masalah disiplin didalam kelas..
e.       Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral daripada asas-asa mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar buku saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. Demikian penggunaan asas motivasi adalah sangat essensial dalam proses belajar mengajar.
11.  Jenis-jenis motivasi
Oemar Hamalik (2004:161) membagi motivasi menjadi dua yaitu : (1) motivasi instrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni. Motivasi yang sebenarnya yang timbul dalma diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, menyadari sumbangannya terhadap usaha kelompok, keinginna diterima oleh orang lain, dan lain-lainnya. Jadi, motivasi ini timbul tanpa pengaruh dari luar. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri siswa dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional. Dalam hal ini pujian atau sejenisnya tidak diperlukan oleh karena tidak akan menyebabkan siswa bekerja atau belajar untuk mendapatkan pujian atau hadiah itu. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, medali, dan hukuman. Motivasi ekstrinsik ini tetap diperlukan sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa atau sesuai dengan kebutuhan siswa.  Lagi pula seringkali para siswa belum memahami untuk apa ia belajar hal-hal yang diberikan oleh sekolah. Karena itu, motivasi terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh guru sehingga siswa mau dan ingin belajar.
Menurut John W. Santrock (2010:514) motivasi dibagi menjadi dua yaitu :
a.       Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh intersif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik. Perspektif beavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dana humanitis lebih menekankan pada arti penting motivasi instrinsik dalam prestasi.
b.      Motivasi instrinsik
Motivasi instrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan seesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. Murid termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangn yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk kontrol. Pujian juga bisa memperkuat motivasi instrinsik murid.

12.  Prinsip motivasi
Ada dua prinsip yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi, ialah : (1) Motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan embantu kita menjelaskan kelakuan yang diamati dan untuk memperkitakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang; (2) Menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunju-petunjuk dan tingkah lakunya. Apakah petunjuk-petunjuk dapat dipercaya, dapat dilihat kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan tingkah laku lainnya.
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar penelitian yang saksama dalam rangka mendorong motivasi belajar murid-murid di sekolah yang mangandung pandangan demokratis dan dalam rangka menciptakan self motivation dan self discioline di kalangan murid-murid. Kenneth H. Hover (dalam Oemar Hamalik, 2004:163) mengemukakan prinsip-prinsip motivasi sebagai berikut :
a.       Pujian lebih efektif daripada hukuman
Hukuman bersifat menghentikan sesuatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Karena itu, pujian lebih besar nilainya bagi motivasi belajar murid.
b.      Semua murid mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan
Kebutuhan-kebutuhan itu menyatakan diri dalam berbagai bentuk yang berbeda. Murid-murid yang dapat memenuhi kebutuhannya secara efektig melalui kegiatan-kegiatan belajar hanya memerlukan sedikit bantuan di dalam motivasi dan disiplin.
c.       Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar
Sebabnya ialah karena kepuasan yang diperoleh oleh individu itu sesuai dengan ukuran yang ada dalam murid sendiri.
d.      Terhadap jawaban (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan (reinforcement)
Apabila sesuatu perbuatan belajar mencapai tujuan maka terhadap perbuatan itu perlu segera diulang kembali setelah beberapa menit kemudian, sehingga hasilnya lebih mantap. Pemantapan itu perlu dilakukan dalam setiap tingkatan pengalaman belajar.
e.       Motivasi itu mudah menjalar atau sekedar atau tersebar terhadap orang lain
Guru yang berminat tinggi dan antusias akan menghasilkan murid-murid yang juga berminat tinggi dan antusias pula. Demikian murid yang antusias akan mendorong motivasi murid-murid lainnya.
f.       Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi
Apabila seseorang telah menyadari tujuan yayng hendak dicapainya maka perbuatannya ke arah itu akan lebih besar daya dorongnya.
g.      Tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya daripada apabila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru
Apabila murid diberi kesempatan menemukan masalah sendiri dan memecahkan sendiri maka akan mengembangkan motivasi dan disiplin lebih baik.
h.      Pujian-pujian yag datangnya dari luar (external reward) kadang-kadang diperlukan dan kucup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya
Berkat dorongan orang lain, misalnya untuk memperoleh angka yang tinggi maka murid akan berusaha lebih giat karena minatnya menjadi lebih besar.
i.        Teknik dan proses mengajar yang bermacam-macam adalah efektif untuk memlihara minat murid
Cara mengajar yang bervariasi ini akan menimbulkan situasi belajar yang menantang dan menyenangkan seperti halnya bermain dengan alat permainan yang berlainan.
j.        Manfaat minat yang telah dimiliki oleh murid adalah bersifat ekonomis
Minat khusus yang telah dimiliki oelh murid, minatnya bermain bola basket akan mudah ditransferkan kepada minat dalam bidang studi atau dihubungkan dengan masalah tertentu dalam bidang studi.
k.      Kegiatan-kegiatan yang akan dapat merangsang minat murid-murid yang kurang mungkin tidak ada artinya (kurang berharga) bagi para siswa yang tergolong pandai
Hal ini disebabkan karena berbedanya tingkat abilitas dikalangan siswa. Karena itu, guru yang hendak membagkitkan minat murid-muridnya supaya menyesuaikan usahanya dengan kondisi-kondisi yang ada pada mereka.
l.        Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan belajar
Kecemasan ini akan mengganggu perbuatan belajar siswa sebab akan mangakibatkan pindahnya perhatiannya kepada hal lain, sehinga kegiatan belajarnya menjadi tidak efektif.
m.    Kecemasan dan frustasi yang lemah dapat membantu belajar, dapat juga lebih baik
Keadaan emosi yang lemah dapat menimbulkan perbedaan yang lebih energik, kelakuan yang lebih hebat.
n.      Apabila tugas tidak terlalu sukar dan apabila tidak ada maka frustasi secara cepat menuju ke demostrasi
Karena terlalu sulitnya tugas itu maka akan menyebabkan murid-murid melakukan hal-hal yang tidak wajar sebagai manifestasi dari frustasi yang terkandung didalam dirinya.
o.      Setiap murid mempunyai tingkat-tingkat frustasi toleransi yang berlainan
Ada murid yang karena kegagalanya justru menimbulkan incentive  tetapi ada siswa yang selalu berhasil malahan menjadi malahan manjadi cemas terhadap kemingkinan timbulnya kegagalan, misalnya tergantung pada stabilitas emosinya masing-masing. 
p.      Tekanan kelompok murid (per grup) kebanyakan lebih efektif dalam motivasi daripada tekanan/ paksaan dari orang dewasa
Para siswa (terutama para adolesent) sedang mencari kebebasan dari orang dewasa, ia menempatkan hubungan peer lebih tinggi. Ia bersedia melakukan apa yang akan dilakukan oleh grupnya dan demikian sebaliknya. Karena itu, kalau guru hendak membimbing murid-murid belajar maka arahkan lah anggota-anggota kelompok itu kepada nilai-nilai belajar, baru murid tersebut akan belajar dengan baik.
q.      Motivasi  yang besar erat hubungannya dengan kreatifitas murid
Dengan teknik mengajar tertentu motivasi murid-murid dapat ditujukan kepada kegiatan-kegiatan kreatif. Motivasi yang telah dimiliki oleh murid apabila diberi semacam penghalang seperti ujian yang mendadak, peraturan-peraturan sekolah, dan lainnya amak kegiatan kreatifnya akan timbul sehingga ia lolos dari penghalang tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar