Selasa, 28 Februari 2012

jaringan komputer edisi 2


IP V4
 By : Triasasnova
IP address merupakan alamat logika yang di berikan ke semua perangkat jaringan yang menggunakan protokol TCP/IP. IP address memungkinkan host pada jaringan yang berbeda maupun pada jaringan yang sama untuk bisa saling berkomunikasi walaupun dalam platform yang berbeda. Untuk mengatasi kesulitan dalam perhitungan alamat IP munculah suatu metode yang dinamakan subnetting yang berfungsi memperbanyak Network ID dimiliki dengan cara mengorbankan sebagian Host ID untuk membuat Network ID tambahan.
Untuk berkomunikasi dengan host lain didalam suatu jaringan, sebuah host harus mempunyai IP (Internet Protocol) address.



Network ID akan menentukan alamat jaringan peralatan tersebut. Alamat jaringan adalah alamat IP yang mana bit bilangan bagian host semuanya dibuat menjadi 0. Alamat jaringan akan menentukan lokasi peralatan dalam sistem jaringan, apakah ada pada lokasi yang sama atau tidak.
Host ID menentukan nomor host atau kartu jaringan untuk peralatan jaringan yang dimaksud. Bagian host akan menentukan alamat host. Selain alamat jaringan dan alamat host, juga dapat diambil pengertian tentang alamat broadcast. Alamat broadcast adalah IP address yang semua bit bilangan bagian host dibuat menjadi 1. Alamat broadcast digunakan untuk berbicara secara simultan kepada semua peralatan dalam satu jaringan
IP address sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian network address dan node/host address. IPv4 terdiri dari 5 class, yaitu A, B, C, D dan E. Kelas D digunakan untuk multicasting, sedangkan kelas E untuk riset.



Kelas A


Kelas B

Kelas C

Kelas D


Kelas E


Catatan pembagian kelas IP
·         Network ID 127.xxx.yyy.zzz adalah address khusus, digunakan untuk local loopback dan diagnosa divice atau komputer Standalone
·         Network ID dan Host ID tidak boleh bernilai 1 untuk semua bitnya (255 dalam desimal). Jika semua bit bernilai 1 maka akan terjadi alamat broadcast.
·         Network ID dan Host ID tidak boleh bernilai 0 untuk semua bitnya (0 juga dalam desimal). Jika semua bit bernilai 0 maka otomatis akan digunakan sebagai alamat jaringan (Network-ID).
·         Urutan bit tertinggi kelas D yang bernilai 1110 (224.0.0.0 s.d 239.255.255.255) digunakan untuk penerapan teknologi multicasting dan bit tertinggi kelas E yang bernilai 1111 (240.0.0.0 s.d 247.255.255.255) disimpan untuk keperluan yang akan datang.

Dari pembagian kelas diatas dapat dikalkulasikan

Dari gambar dibawah ini perhatikan kelas A menyediakan jumlah network yang paling sediikit namun menyediakan host id yang paling banyak dikarenakan hanya oktet pertama yang digunakan untuk alamat network bandingkan dengan kelas B dan C.

Menentukan kelas suatu alamat IP Address
Untuk mempermudah dalam menentukan kelas mana IP yang kita lihat, perhatikan gambar dibawah ini. Pada saat kita menganalisa class suatu alamat IP maka perhatikan oktet 8 bit pertamanya.

Pada kelas A : 8 oktet pertama adalah alamat networknya, sedangkan sisanya 24 bits merupakan alamat untuk host yang bisa digunakan. Jadi admin dapat membuat banyak sekali alamat untuk hostnya, dengan memperhatikan : 224 – 2 = 16.777.214 host-- > N : jumlah bit terakhir dari kelas.
Pada kelas B : menggunakan 16 bit pertama untuk mengidentifikasikan network sebagai bagian dari address. Dua oktet sisanya (16 bits) digunakan untuk alamat host :
216 – 2 = 65.534
Pada kelas C : menggunakan 24 bit pertama untuk network dan 8 bits sisanya untuk alamat, Host : 28 – 2 = 254

SUBNET MASK
Subnet Mask biasanya digunakan oleh router untuk menentukan bagian mana yang merupakan alamat jaringan dan bagian mana alamat host. Subnet mask adalah suatu bilangan 32 bit sebagaimana alamat IP Address yang juga ditulis dalam notasi desimal bertitik. Router biasanya menggunakan suatu proses AND dimana bit-bit subnet mask di AND terhadap bit-bit IP Address yang ditemukan.
Contoh :
==  >> IP Address : 180.20.5.9
Subnet Mask : 255.255.255.0.0 (default Subnet mask Kelas B)
Network Address ???
IP Address :10110100 00010100 00000101 00001001
Subnet mask :11111111 11111111 00000000 00000000 And
Network IP : 10110100 00010100 00000000 00000000
IP Address dalam prakteknya merupakan satu cara untuk menentukan Network ID dengan bantuan Subnet Mask.



Subnetting
Mengapa dilakukan subnetting ?
·         Untuk mengurangi lalu lintas jaringan (mengurangi broadcast storm/ memperkecil broadcast domain)
·         Mengoptimalisasi kerja jaringan
·         Pengelolaan yang disederhanakan (memudahkan pengelolaan, mengidentifikasikan permasalahan)
·         Penghematan alamat IP
Pada dasarnya subnetting adalah mengambil bit-bit dari bagian host sebuah alamat
IP dan me-reserve atau menyimpannya untuk mendefinisikan alamat subnet. Konsekuensinya adalah semakin sedikit jumlah bit untuk host. Jadi semakin banyak jumkah subnet, semakin sedikit jumlah bit yang tersedia untuk mendefinisikan host bit.

Contoh Subneting
== >> Tersedia network address 192.168.1.0 / 24 _ “ berarti kelas C ”. (Lihat tabel di atas) Misal kita membutuhkan 6 kelompok jaringan/network, maka yang kita lakukan adalah membagi alamat tersebut menjadi 6 subnet. Maka rumus yang digunakan adalah 2n >= jumlah subnet. Variabel n menunjukkan jumlah bit yang dipinjam dari bit-bit host untuk dijadikan bit subnet.
Perhitungan:
2^n >= 6 => 2^3 >= 6 ,sehingga n = 3
Perhitungan dengan metode binary :
- subnet mask default (dalam biner) : 11111111.11111111.11111111.00000000
- tambahkan 3 bit 1 di ruas paling belakang : 11111111.11111111.11111111.11100000
- konversi subnet tersebut ke desimal : 255.255.255. 224
(Berarti subnet mask addressnya adalah 255.255.255.224 untuk mendapatkan 6 subnet) Sekarang untuk mengetahui jumlah IP yang dapat dipakai untuk tiap host di tiap subnet, lakukan operasi berikut :
256                  jumlah rentang dari 0 – 255
224 -                nilai ruas terakhir dari subnet yang baru
32                    digunakan sebagai range buat subnetnya
Hasil 32 menunjukkan IP yang dapat dipakai untuk tiap subnet mask yang baru. Berikut ini adalah daftar semua subnet untuk subnet mask class C 255.255.255 224 :
Subnet ke 0 : 192.168.1.0 – 192.168. 1. 31
Subnet ke 1 : 192.168.1.32 - 192.168.1. 63
Subnet ke 2 : 192.168.1.64 - 192.168.1. 95
Subnet ke 3 : 192.168.1.96 - 192.168.1.127
……………….
Subnet ke 7 : 192.168.1.224 – 192.168.1.255

Contoh menghitung broadcast address
== >> Coba hitung broadcast address dan network address untuk IP 192.168.1.4 /29
Jawab             
: /29 berarti netmask = 255.255.255.248
IP Adress        : 192.168.1.4 : 11000000.10101000.00000001.00000100
Netmask          : 255.255.255.248 : 11111111.11111111.11111111.11111000 and
Network Addr: 192.168.1.0  : 11000000.10101000.00000001.00000000
(And)
Broadcast Addr: 192.168.1.7 : 11000000.10101000.00000001.00000111
(invers dari nerwork address)

CIDR ( Classless Interdomain Domain Routing)
Perhitungan subnetting pada CIDR merupakan perhitungan lanjutan mengenai IP Addressing dengan menggunakan metode VLSM ( Variable Length Subnet Mask ), namun sebelum membahas VLSM perlu dilihat terlebih dahulu subnetting menggunakan CIDR.
Pada tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep perhitungan IP Address yang dinamakan classless inter domain routing (CIDR), metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagai network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkan pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif.
Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai.  Suatu metode yang digunakan oleh ISP untuk mengalokasikan sejumlah alamat pada perusahaan, ke rumah seorang pelanggan. ISP menyediakan ukuran blok (block size) tertentu.

Contoh : kita mendapatkan blok IP 192.168.32/28. notasi garis miring atau slash notation (/), berarti berapa bit yang bernilai 1 (contoh diatas adalah /28 berarti ada 28 bit yang bernilai 1). Nilai maksimum setelah garing adala /32. karena satu byte adalah 8 bit dan terdapat 4 byte dalam sebuah alamat IP (4 x 8 = 32). Namun subnet mask terbesar tanpa melihat class alamatnya adalah hanya /30, karena harus menyimpan paling tidak dua buah bit sebagai bit host.
Sebelum kita melakukan perhitungan IP address menggunakan metode CIDR berikut ini adalah nilai subnet yang dapat dihitung dan digunakan :
Pola yang dimaksudkan adalah pola 128, 192, 224, 240, 248, 252, dan 254. Dimana 128 dalam binary yaitu = 10000000 (1 bit subnet), 192 dalam binary yaitu 11000000 (2 bit binary) dan seterusnya. Maka hafalkan pola 128, 192, 224, 240, 248, 252 dan 254.

Catatan penting dalam subnetting ini adalah penggunaan oktet pada subnet mask dimana :
·         Untuk IP Address kelas C yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada oktet terakhir karena pada IP Address kelas C subnet mask default-nya adalah 255.255.255.0
·         Untuk IP Address kelas B yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 2 oktet terakhir karena pada IP Address kelas B subnet mask default-nya adalah 255.255.0.0
·         Untuk IP Address kelas A yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 3 oktet terakhir karena IP Address kelas A subnet mask default-nya adalah 255.0.0.0

VLSM ( Variable Length Subnet Mask )
Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, jika menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask saja, perbedaan yang mendasar disini juga adalah terletak pada pembagian blok, pembagian blok VLSM bebas dan hanya dilakukan oleh si pemilik Network Address yang telah diberikan kepadanya atau dengan kata lain sebagai IP address lokal dan IP Address ini tidak dikenal dalam jaringan internet, namun tetap dapat melakukan koneksi ke jaringan internet, hal ini terjadi dikarenakan jaringan internet hanya mengenal IP Address berkelas.
Metode VLSM ataupun CIDR pada prinsipnya sama yaitu untuk mengatasi kekurangan IP Address dan dilakukannya pemecahan Network ID guna mengatasi kekerungan IP Address tersebut. Network Address yang telah diberikan oleh lembaga IANA jumlahnya sangat terbatas, biasanya suatu perusahaan baik instansi pemerintah, swasta maupun institusi pendidikan yang terkoneksi ke jaringan internet hanya memilik Network ID tidak lebih dari 5 – 7 Network ID (IP Public).
Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet, pengelolaan network-nya dapat memenuhi persyaratan ; routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2). Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus paket informasi. Tahapan perihitungan menggunakan VLSM IP Address yang ada dihitung menggunakan CIDR selanjutnya baru dipecah kembali menggunakan VLSM, berikut contoh :
== >> IP Address : 130.20.0.0/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat 11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktet terakhir subnet adalah 4 maka Jumlah subnet : 24 = 16. Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20     Dst … sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20

Berikut langkah kerja denga metode VLSM, kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
·         Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
·         Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24, dst..sampai ke 16
·         Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu 130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16/2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32
·         Sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27, dst

== >> Ip address 130.200.0.0 dengan subnet mask 255.255.224.0 yang diidentifikasi sebagai kelas B.
Subnet mask : 11111111.11111111.11100000.00000000
3 bit dari oktet ke 3 telah digunakan , tinggal 5 bit yang belum diselubungi maka banyak kelompok subnet yang bisa dipakai adalah kelipatan
25 = 32 (256 – 224 = 32) : 32 64 96 128 160 192 224
Jadi Kelompok IP yang bisa digunakan adalah :
130.200.0.0 - 130.200.31.254
130.200.32.1 - 130.200.63.254
130.200.64.1 - 130.200.95.254
130.200.96.1 - 130.200.127.254
130.200.128.1 - 130.200.159.254
130.200.160.1 - 130.200.191.254
130.200.192.1 - 130.200.223.254

== >> Terdapat network id 130.200.0.0 dengan subnet 255.255.192.0 yang termasuk juga kelas B, menyelesaikannya adalah ;
         Dari nilai oktet pertama dan subnet yang diberikan, dapat diketahui IP address adalah kelas B yang oktet ketiga diselubungi dengan angka 192…
         Hitung dengan rumus (4 oktet – angka yang diselubung) 256 – 192 = 64
         Jadi kelompok subnet yang dapat dipakai adalah kelipatan 64 dan 128.
Jadi kelompok ip yang dapat dipakai adalah :
130.200.64.1 sampai 130.200.127.254
130.200.128.1 sampai 130.200.199.254

== >> Menggunakan kelas C dengan network address 192.168.81.0 dengan subnet mask 255.255.255.240, maka :
         Dari nilai oktet pertama dan subnet yang diberikan dapat diketahui IP address adalah kelas C dengan oktet ketiga terselubung dengan angka 240
         Hitung (256 – 240) = 16
         Maka kelompok subnet yang dapat digunakan adalah kelipatan 16, yaitu :
16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224
Maka kelompok IP address yang dapat digunakan adalah :
192.168.81.17 sampai 192.168.81.20
192.168.81.33 sampai 192.168.81.46
192.168.81.49 sampai 192.168.81.62
192.168.81.65 sampai 192.168.81.78
192.168.81.81 sampai 192.168.81.94
192.168.81.97 sampai 192.168.81.110
192.168.81.113 sampai 192.168.81.126
192.168.81.129 sampai 192.168.81.142
192.168.81.145 sampai 192.168.81.158
192.168.81.161 sampai 192.168.81.174
192.168.81.177 sampai 192.168.81.190
192.168.81.193 sampai 192.168.81.206
192.168.81.209 sampai 192.168.81.222
192.168.81.225 sampai 192.168.81.238

== >> Sebuah perusahaan yang baru berkembang mempunyai banyak kantor cabang dan tiap kantor cabang mempunyai 255 workstation, network address yang tersedia adalah 164.10.0.0, buatlah subnet dengan jumlah subnet yang terbanyak.
Penyelesaian ; 164.10.0.0 berada pada kelas B, berarti oktet 3 dan 4 digunakan untuk host, sedangkan 1 kantor cabang ada 254 host, maka ambil 1 bit lagi dari oktet ke 3 agar cukup.
Maka subnetmask yang baru
11111111.11111111.11111110.00000000
255. 255. 254. 0
Subnet yang tersedia adalah 256 – 254 = 2, maka subnetnya kelipatan 2 sampai dengan 254.
Jumlah subnet (27 – 2) = 128 – 2 = 26 subnet
Jumlah host / subnetnya (29 - 2 ) = 512 – 2 = 510 host
164.10.0.0 sampai 164.10.1.0 --- > dibuang
164.10.2 .1 sampai 164.10.3.254
164.10.4.1 sampai 164.10.5.254
164.10.6.1 sampai 164.10.7.254
164.10.8.1 sampai 164.10.9.254
.
.
.
164.10.252.1 sampai 164.10.253.254


(untuk file dokumen (eks .docx), silahkan lihat menu download, link internet protokol versi 4 ...)


sumber :

Ahmad mubarak, fathul wahid. 2006. Aplikasi untuk menentukan ip address dan   subnetmask host pada suatu jaringan. Media informatika, vol 4, no 1, juni   2006, 1-11. http://duniapustaka.com  

Budi. 2003. Konsep dan Perancangan Jaringan Komputer. Yogyakarta: Andioffset

Deris stiawan. Request, alokasi, & pengelolaan ip addresing. Jurusan sistem komputer fasilkom unsri. htt://www.unsri.ec.id  

Rob flickernger, dkk. 2007. Jaringan wireless di dunia berkembang. Ebook, http://wndw.net, Licensi Creative Commons Attribution Sharelike 3.0. 

Irwan Suprayitno, dkk. 2008. Rancangan sistem jaringan komputer. http://p263.mti08.vlsm.org. Megister teknologi informasi universitas   indonesia, jakarta.  

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar